Kenangan Lira (Bagian 1)

August 09, 2016 Semut Kecil 6 Comments

(Jakarta, Desember 2018)

Cuaca mendung menemani Lira yang sedang sendirian di ruang kerja, setumpuk pekerjaan dan cuaca yang tak mendukung membuat Lira ingin segera melarikan diri dari tempatnya saat ini dan segera merebahkan diri di ranjang yang empuk. Namun keinginan itu sirna ketika Lira melihat figura disampingnya, tanpa sadar Lira saat ini membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan manis yang tak pernah ia lupakan sedikit pun. Lira pun memandang figura yang selalu menemani hari-harinya selama ini, figura yang tak pernah dan tak akan ia buang melainkan disimpannya dengan apik di meja kerja nya. "Sudah 4 tahun berlalu ternyata, tak berasa waktu begitu cepat berjalan dan tak ada yang berubah sedikitpun. Semua masi sama" gumam Lira sembari menghela nafas dan kemudian Lira pun memejamkan mata mengingat kejadian 4 tahun silam.


(Bandung, Desember 2014)

"saya selesai sampai disini, maaf saya harus pergi".

Lira terkaget-kaget membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya, Lira memastikan berkali-kali pesan yang diterimanya itu benar pesan yang dikirim sindy.

"Sin, are you okay?" balas Lira.

Lira menunggu balasan dengan perasaan campur aduk, ingin rasanya dia menekan tombol call untuk mengetahui secara langsung maksud pesan dari Sindy tersebut, namun Lira tau jam segini Sindy sedang larut dengan setumpuk pekerjaan yang jika diganggu sama saja kamu membangunkan macan. 50 menit kemudian hp Lira berbunyi menandakan adanya pesan masuk.

"saya baik-baik saja kok" balas sindy.

"ish, 50 menit nunggu balasan cuman segini dibalasnya" gerutu Lira sembari memarahi hp pintarnya. Lira pun buru-buru membalas pesan itu sebelum Sindy disibukan kembali.

"serius Sin? cerita dong ada apa, saya tau kamu menyembunyikan sesuatu" balas Lira.
"hahaha, kamu curigaan banget sih ra. Nanti deh ya ceritanya, intinya saya selesai sampai disini dan semangat untuk kalian semua ya." balas Sindy.
"iyalah gimana ga curiga kamu tiba-tiba chat begitu. Oke saya tunggu cerita lengkapnya, kalau bisa malam ini ceritakan semuanya ya biar saya bisa menjelaskan ke yang lain dan satu lagi jangan keluar grup sebelum semua jelas okay" balas Lira dengan rasa penasaran tinggi.
"okay :*" balas Sindy singkat.

"Sial, chat panjang-panjang dibalas nya cuman singkat minta di bom ni anak. yasudahlah semoga nanti malam dia bener cerita semuanya" gerutu Lira sambil menghela nafas.


(Jakarta, Desember 2018)
Lira pun terbangun dengan perasaan rindu yang datang menghampiri, kemudian Lira membuka folder yang berisi foto-foto 4 tahun silam. Lira membuka satu persatu foto kenangan itu, foto pertama yang dibukanya membuat Lira tanpa sadar meneteskan air mata dan kembali mengingatkan Lira akan pertemuan pertama itu. Lira pun kemudian memejamkan mata kembali, membiarkan dirinya kembali pada masa itu, masa awal pertemuan kita semua.


(Jakarta, November 2013)
 "Sindyyyyy, Renaaaaaa, Bilaaaaa, Romiiiii" teriak Lira sambil berlari menghampiri keempat temannya yang baru dikenalnya di dunia maya itu. Perkenalan singkat itu tak membuat adanya rasa takut, karena Lira yakin bahwa keempat orang yang baru dikenalnya itu adalah orang baik dan hebat. 

"Hei Lira, kamu punya jam?" kata Romi dengan nada sinis.
"Maaf, tadi keretanya macet" canda Lira.
"ha ha, lucu" sinis Romi
"Udah dong Rom, kasian baru ketemu udah kamu sinisin gitu" timpal Rena.
Romi pun senyum sinis
"yuk, sekarang aku bawa kalian keliling jakarta" ajak Bila untuk mencairkan suasana.
"cukup emang waktunya, kita kan cuman 2 hari disini" kata Sindy meragukan.
"cukup, cukup kok tenang aja" Bila berkata dengan keyakinan penuh dan aku pun hanya tertawa menyaksikan perdebatan kecil itu. Aku tersenyum bahagia, ternyata mereka sama asiknya ketika di dunia nyata. 
"yuk, kita segera pergiiiiii. kemana kita Bil?" Lira berkata dengan semangat sampai tanpa sadar seluruh penghuni stasiun melirik kearah mereka.
"pelan-pelan Ra, inget kita di tempat umum ya. Gimana kalau dufan?" ajak Rena.
"TMII aja dulu deh, dufan pasti penuh atau ga kita ke kota tua aja" sela Romi
"asik sinis nya romi ilang, yipppi" kata Lira sambil tersenyum menang
"Ha ha ha" sinis Romi
"ish, sinis lagi pun kau Rom" ketus Lira
"okay kita ke kota tua aja ya biar sekalian istirahat disana" ajak Bila.
"Ayooooookkkkkkk kita ke Kota Tua" teriak Bila, Lira dan Rena. Sedangkan Sindy dan Romi hanya tersenyum. Kami pun bergegas berjalan menuju Kota Tua.


(Jakarta, Desember 2018)
Lira pun tanpa sadar menangis merasakan rindu yang hadir, mengingat kejadian pertama itu. Mengingat bagaimana sinisnya Romi kepadanya, dinginnya Sindy dan gokilnya Bila sama Rena. Lira menangis makin menjadi ketika sadar bahwa saat ini untuk berkumpul itu mustahil, jangankan untuk ngumpul, saling sapa di dunia maya pun rasanya kecil kemungkinan. Lira pun menghela nafas dan melanjutkan melihat ke foto selanjutnya.


~BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA~

6 Comments:

PENGENALAN

June 14, 2016 Semut Kecil 8 Comments


            Ketika kebohongan sudah menjadi sebuah tradisi maka kejujuran sudah menjadi hal yang langka, adapun orang yang masih memegang teguh kejujuran akan tetap melakukan kebohongan meskipun itu hanya sedikit kadarnya. Kebohongan yang menjadikan semua yang dimiliki itu menjadi percuma karena itu hanyalah kepalsuan semata. Kepalsuan yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan, menjadi salah satu topeng yang membentengi diri dari segala keadaan yang hadir dalam kehidupan. Entah apa yang dilindungi, mungkin harga diri atau mungkin ego yang tak mau kalah? Entahlah. Apapun yang ingin dilindungi oleh kepalsuan jelaslah salah. Salah karena seindah indahnya kepalsuan tetaplah fana sedangkan sepahit pahit nya kejujuran adalah nyata. Itulah pandanganku tentang kepalsuan, kepalsuan yang membuat lelah, kepalsuan yang membuat muak, kepalsuan yang membuat aku ingin lenyap dengan seketika dari peredaran ini.

            Terlalu banyak orang yang manis di depan namun pahit di belakang, tersenyum manis ketika menyapa tapi dibelakang pahit yang dibicarakan. Berpura-pura seakan semua baik-baik saja namun ternyata masih ada saja hal yang mengganjal dalam hati. Berkata aku tak apa-apa tapi ternyata ada apa-apa. Tak masalah jika memang tak ingin aku mengetahui apa yang dirasa namun akan menjadi masalah ketika aku menjadi penyebab dari kepalsuan itu, sedih rasanya. Lebih baik terungkap segalanya meskipun menyakitkan namun setelahnya akan baik-baik saja daripada terpendam terlihat indah namun ternyata itu adalah keadaan yang tak baik.

             Ini kisahku yang mengalami berbagai cerita yang diakibatkan oleh kepalsuan, argument diatas adalah kekesalan ku atas kepalsuan yang ada dihidupku. Namun ada satu kepalsuan yang membuatku belajar banyak hal (persahabatan, cinta, kejujuran dan kesetiaan). Sebelumnya perkenalkan nama ku lazie akira panggil saja aku zie, sekarang aku sedang berusaha menamatkan study ku di sebuah universitas negeri di Indonesia dan aku lahir dari keluarga yang dilandasi oleh kepalsuan. Orang tua ku berpisah sejak aku masih kecil, kenapa orangtua ku pisah? Karena ada kepalsuan yang mewarnai hari-hari mereka sehingga berpisah adalah jalan terbaik (satu alasan aku benci akan kepalsuan) meskipun kata terbaik itu berasal dari mereka sendiri.

            Selama aku menjalani hari-hari ku di kampus, aku banyak sekali menemukan berbagai karakter yang mewarnai perkuliahanku. Ada satu kejadian yang aku ingat sampai saat ini, saat aku memergoki teman ku sedang membicarakan keburukan ku. Seperti argumenku sebelumnya, aku tak pernah mempermasalahkan mereka yang membenciku namun mereka yang membenciku terlihat manis jika bercerita bersamaku itu yang aku permasalahkan. Mungkin memang tak semua orang dapat berterus terang tentang ketidaksukaannya terhadap diriku dengan dalih menjaga perasaan dan aku pun tak dapat memaksa mereka untuk berterus terang. Karena pada dasarnya aku pun terkadang memiliki perasaan seperti itu, perasaan dimana aku tak ingin berterus terang karena tak ingin menyakiti meskipun pada akhirnya aku selalu berterus terang dan mengakibatkan keadaan yang berbeda setelahnya.

            Pada pertengahan kuliahku, aku dipertemukan dengan seseorang yang katanya menyukaiku dari awal bertemu. Darimana aku tau? Aku menanyakan langsung padanya karena selain aku tak suka dengan kepalsuan aku pun tak suka berbasa-basi. dan sekali lagi, pada akhirnya yang kutemui adalah sebuah kepalsuan meskipun kali ini penyebab dari kepalsuan itu adalah aku sendiri.

            Pada akhir masa kuliahku, aku memilih tak menyibukan diri didalam kampus. Mencari suasana baru diluar sana dan mengharapkan pengalaman yang lain. Dan lagi, aku menemui sesuatu yang sudah tak asing bagiku yaitu kepalsuan. Aku hanya dapat tersenyum sinis dan berkata “lagi dan lagi kepalsuan, tak ada habisnya”.

~bersambung~
bercerita karena ingin, kisah ini adalah kisah fiktif bercampur nyata. mohon maaf jika ada kesamaan nama, dan kejadian. lanjutan kisah akan diuraikan secara rinci di chapter-chapter berikutnya. terimakasih sudah membaca, kritik dan saran siap diterima.

-nursan-

8 Comments:

Sedih

April 24, 2016 Semut Kecil 1 Comments

sedih, kelam tak bercahaya
sedih, hampa tak berisi
halusinasi akan bahagia
kosong, tinggal hampa menemani

kisah pilu hadir dengan sendiri
menghancurkan segala tiang yang berdiri
aku pasrah memandangi
melihat puing kenangan tersisa sepi

kebersamaan hilang dirampas keegoisan
senyuman manis terkikis gengsi besar
sapaan halus hanya kebohongan
canda tawa sekedar formalitas

lelah hati tak sanggup melangkah
namun hati tak sanggup berhenti
ingin hati kesedihan berhenti
namun hati tak banyak daya

sedih, ingin rasa nyaman kembali
tapi tak mungkin secepat aku bernafas
sedih, ingin tersenyum lepas kembali
tapi tak mungkin secepat aku berlari

aku pasrah pada waktu yang berputar
aku berharap pada kesempatan
aku ingin mengulang pada satu masa
aku ingin puing itu tetap bertahan

aku ingin kesedihan ini hilang
aku ingin kesedihan ini tinggal kenangan
aku ingin kesedihan ini berganti bahagia
aku ingin kesedihan ini hanya halusinasi semata

~Bandung, 24 April 2016
~Nursan

1 Comments:

Lelah

April 11, 2016 Semut Kecil 0 Comments

Ya, aku telah mati
Meninggalkan raga melepas jiwa
Ya, aku telah mati
Tersisa kenangan berupa cerita kehidupan

Raga kosong tanpa penghuni jiwa
jantung berdetak tanpa irama
tatapan kosong tak berarah
kaki melangkah tanpa tujuan

Jiwa pergi tanpa pamit
seakan muak akan kepalsuan dunia ini
Jiwa enggan untuk kembali
seakan kembali tak kan merubah kekosongan hati

lelah, lebih memilih mati
namun dunia tetap menahannya
lelah, lebih memilih pergi
namun dunia tetap mengikatnya


~ Bandung, 11 April 2016
~ Nursan

0 Comments:

Luka

April 02, 2016 Semut Kecil 0 Comments

luka yang tertinggal dalam hati
luka yang enggan untuk pergi
luka yang selalu datang tanpa permisi
luka yang dengan bebasnya menghampiri

tak dapat kurasakan bahagia
untuk senyum pun sulit
tak dapat kurasakan bahagia
untuk tertawa itu tak mungkin

mengubur masa lalu bukan hal mudah
menjalani masa ini terlalu berat
menatap masa depan layaknya sebuah angan-angan
semua hanya ilusi semata



Bandung 10.17 WIB, 
Bersama hening nya malam ditemani alunan melodi.
Penulis: nursan

0 Comments:

Hope

March 20, 2016 Semut Kecil 0 Comments

Tuhan, izinkan ak tetap menyimpan rasa sayang ini sampai kapanpun. meskipun ak tau waktu tak akan selamanya berada dipihak kami. ak sadar, pada saat itu akan tiba waktulah yang memisahkan kami secara perlahan tanpa kami sadari.

Tuhan, izinkan ak tetap menyimpan segala memori yang ada tentang mereka. meskipun ak tau usia yang semakin tua akan membuat daya ingat ini semakin melemah dan mungkin ak akan lupa.

Tuhan, izinkan ak tetap berharap pada satu masa dimana masa itu adalah masa kami bertemu kembali dengan hati yang penuh suka menyimpan berjuta cerita.

Tuhan, izinkan ak tetap menjaga hubungan ini meskipun nanti hanya ak yg berjuang senditi untuk menjaganya dan ak hanya berharap perjuanganku ini tetap dapat menjaga tali ini.

ak sadar setiap pertemuan akan berakhir pada perpisahan, ak hanya berharap perpisahan yang terjadi diantara kita bukan lah perpisahan abadi akibat satu hal, karena ak masih ingin membuat cerita bersama kalian di pertemuan selanjutnya.

pertemuan yang masih samar, karena ak pun tak pernah tahu akan adakah pertemuan itu. itu hanya sebuah harapan, bahkan hati ini berharap bahwa perpisahaan itu tak perlu hadir. kalaupun hadir biar lah perpisahan abadi karena kematian yang memisahkan.

namun pada akhirnya, kami akan berjalan masing masing dengan jalan yang berbeda. semoga kita bertemu kembali di persimpangan berikutnya. dan ak selalu berharap persimpangan itu ada.

0 Comments:

Cerita ini

March 09, 2016 Semut Kecil 0 Comments

ketika aku membuka lembar demi lembar buku diary ku,
ketika aku membaca kata per kata kalimat ku,
aku tak mengira akan menitikan air mata
aku tak mengira akan sulit berkata kata

masa remaja yang indah ku rasa, begitu banyak kenangan didalamnya. tak dapat aku tuangkan semua dalam buku itu, namun benang memori itu terurai kembali dengan sendirinya merunut semua kejadian yang pernah terjadi. aku mengingat kembali bagaimana rasanya ditegur dengan keras oleh kalian, aku mengingat kembali bagaimana rasanya bahagia ketika bersama dengan kalian, aku mengingat kembali bagaimana ketika ada kesusahan diantara kita dan kita tak saling meninggalkan tapi kita membantu saling bahu membahu. sampai hadir satu masa perpisahan itu hadir dan semua tak lagi sama.

waktu berubah menjadi penghambat
jarak pun menjadi penghalang
sibuk menjadi alasan

entah sampai kapan itu akan hadir diantara kita, keegoisan ku akan rindu memang terlalu berlebih sehingga menginginkan kalian terus mengingatku padahal masih banyak hal yang perlu kalian lakukan diluar sana tanpa ku. meski aku sadar saat ini kita memiliki mimpi dan tujuan yang berbeda, itulah mengapa pertemuan kita sulit terjadi karena saat ini kita berada di jalan yang berbeda dengan jarak sebagai pemisah.

Percayalah
aku tetaplah aku
yang selalu merindu sebuah pertemuan
aku tetaplah aku
yang selalu berdoa untuk kalian

Percayalah
aku tetaplah aku
yang menjaga cerita ini tetap ada
aku tetaplah aku
yang ingin selalu kalian percaya


(Bandung, 9 Maret 2016 - Nursan)

0 Comments:

Tak sama seperti dulu

March 08, 2016 Semut Kecil 0 Comments

Ak mematung, mencerna semua yang terjadi barusan.
kejadian yang tak ak persiapkan sebelumnya,
kejadian yang membuat ak diam seribu bahasa
ak memiliki beribu pertanyaan untuk disampaikan.

kamu berubah atau ak yang berubah,
ak tak mengenalmu saat ini tapi tak tau esok hari.
mungkin ak memang tak mengenalmu dari awal,
begitupun sebaliknya kamu tak mengenalku secara baik.

ya, kesalahan ku lah penyebabnya
meskipun sebagian dari tubuhku berkata
ak melakukan hal yang benar
ak tak menampik kalau kesalahan.

kamu hanya perlu tahu, kesalahan yang ku buat memiliki tujuan yang baik.
kamu hanya perlu tahu, ak tak ingin melihatmu sedih
kamu hanya perlu tahu, kepercayaan penting bagiku
kamu hanya perlu tahu, bahagia tawa mu berharga bagiku

~ Catatan Keiko di pagi hari ~
(project novel - nursan)

0 Comments:

Kecewa

February 12, 2016 Semut Kecil 0 Comments

Aku berbohong dengan lisan yang mengingkari hati
tak ada maksud untuk membuatmu terluka
senyummu saat ini tak setulus dulu
senyummu hanya kepura puraan mu saja
agar aku bisa tetap bernafas dengan irama seharusnya

penyesalan sudah kuungkap padamu
kamu mendengarnya dan mengiyakan ucapanku
tapi kenapa masih ada kepura puraan diwajahmu
keraguan itu jelas ada di binar matamu
luka yang tercipta sulit sembuh seketika, katamu

aku membeku, kaki pun terasa kaku tak berdaya
kau menjauh pergi, tidak berlari hanya langkah kecil saja
mengejarmu saat ini terasa sia sia
karena kecewamu padaku besar adanya

aku memandangmu yang semakin menjauh
mengharap kau berbalik dan menghampiriku
memulai segalanya dari titik awal bertemu
dan bersama seperti dahulu

-setyo to delviana-

0 Comments:

Pertemuan dibatas(i) waktu

January 30, 2016 Semut Kecil 0 Comments

            
            Pertemuan ini mungkin “Biasa” , karena ada waktu yang menjadi pembatas.
Aku tak pula menyalahkan waktu, karena hadirnya pula yang membuat pertemuan itu ada.
Memang Tak ada obrolan pada pertemuan itu dan itu bukanlah masalah besar bagiku.
Pertemuan yang sangat sederhana dan terjadi begitu cepat.
Pertemuan yang hanya menjadi ajang lempar senyum.
Pertemuan yang hanya diabadikan oleh beberapa frame saja.
Pertemuan yang memunculkan harapan baru pada sang waktu.
Berharap sang waktu dapat menyediakan satu waktu untuk sebuah pertemuan berikutnya.
Berharap sang waktu tidak mengambil peran sebagai pembatas.
Berharap sang waktu pada saat itu menjadi lebih bersahabat.
Agar rasa bahagia ini semakin terlihat secara nyata
Agar rasa bangga ini semakin menjadi jelas adanya
Agar rasa kagum ini semakin tertanam

Meski aku sadar sang waktu akan tetap pada perannya sebagai pembatas karena “Kamu” yang saat ini sedang memainkan peran sebagai “Bukan Orang Biasa” lah yang menjadikan sang waktu memainkan peran “Pembatas” itu.


Meskipun begitu, harapan pada sang waktu untuk bersahabat pada pertemuan berikutnya masihlah ada. Kalaupun waktu itu tetap menjadi pembatas biarlah kapasitas batasannya berkurang dan kalaupun kapasitas itu masih sama seperti kemarin aku tak akan menyalahkan waktu ataupun yang dibatasi oleh waktu. Aku hanya akan berusaha menikmati waktu yang ada, yang telah disediakan oleh sang waktu. 


Bandung
22 Januari 2016
-nursan-

0 Comments:

Kalian Spesial

January 17, 2016 Semut Kecil 2 Comments

2 Comments:

Aku dan Tya

January 08, 2016 Semut Kecil 0 Comments


hoaaammmmm...... masih terlalu pagi rasanya tuk memulai aktivitas ini gerutu ku dalam batin, ak pun sempoyongan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.

*

triingg triingggg, handphone pun bersuara mengusik ketenangan pagi ini. ak pun bergegas mengambilnya, mungkin panggilan penting batinku. ak pun segera mengangkat panggilan itu.
ak : assalamualaikum , sapa disana?
tya : ini gw tya, lo masih inget kan sama gw?
ak : tya? wait .... ( ak pun menerawang kembali ke masa lalu mengingat tiap nama yang ku kenal)
tya : lupa ya? temen sma lo ini.....
ak : aaaa, i see..... iya ak ingat ingat, ada apa pagi pagi gini telpon n dari mana km tau nomorku ini...
tya : nda, ak cuman mau ngasih info ini nomorku... hahhhhhaaaa
ak : just it? seriously? (ak pun kaget hanya untuk ini dia menelepon ku)
tya : iyaaaaa, km kan tau ak.
ak : hmmmm ok ak save ya...
tya : oke oke, dingin banget sih lo . bukannya seneng gue telpon lo. masih pengen ngobrol nihhhhh....
ak : hhmmm btw, ak sedang dikejar waktu. lain kali ya kita ngobrol lagi.
tya : ah lo ya gg berubah, ttep. tapi okelah, semangat ya lo. nanti gue wa lo okeh kita ngobrol banyak.....
ak : oke sip....
tya : oke dadah...
(percakapan pun berakhir, tya pun memutuskan percakapan pagi ini. hmmm mungkin lebih tepatnya kesibukan ku yang memutuskannya, aku pun menghela nafas.)

*

sesampai nya dikantor ak pun bergegas mengurus semua pekerjaan yang deadline nya telah ku atur sedemikian rupa agar badan ini tetap mendapatkan hak nya untuk beristirahat. "wow, banyak sekali. mari kita mulai, semangat ya red ku" batinku atau lebih tepatnya ak berbicara pada laptop kesayanganku.

*

"pegaaaaallllllll, remuk semua ini badanku kalau terus kek gini" batinku sembari melemaskan otot otot yang sudah menegang dr tadi. ak pun melihat jam "wah, sudah waktunya istirahat. oke red kita istirahat dulu, km juga istirahat ya. jam satu kita ad meeting penting" laptop pun ku tutup dan ak pun bergegas ke kantin segera tak ingin waktu istirahatku berlalu dengan begitu saja, tak lupa handphone pun ku ikutsertakan dalam waktu senggang ini.

*

"wow, bnyak sekali chat yang masuk rupanya" aku pun membuka satu persatu chat yang masuk, tak terkecuali chat dari tya orang yang tadi pagi menelponku hanya untuk memberitahu nomor saja.
tya : halooo.. 9.00 wib
tya : sibuk ya lo? 10.00 wib
tya : nomor gue udah di save kn? 11.00 wib
tya : oke happy work yaa, jaga kesehatan lo. 12.00 wib
aku pun tak segera membalasnya dan menaruh handphone kembali untuk segera menghabiskan makan siang ini, tak lama dari itu handphone pun bergetar menandakan ada pesan masuk dan ak segera membacanya "tya? hmmmm "
tya : lgi istirahat ya lo?
ak : iya, huh
tya : sibuk bener sampe baru di read semua chat gue
ak : hahahahaahaaa
tya : yadah semangat ya...
ak : ok thanks

percakapan itu berakhir dengan sendirinya dan waktu pun menunjukkan sudah waktunya ak kembali bekerja.

*

jam pulang pun menjadi jam yang paling kutunggu tunggu dan akhirnya jam itu pun datang. ak segera membereskan meja kerja untuk segera bergegas pulang pikirku. setelah semuanya rapih ak pun meluncur pulang dengan mengendarai motor kesayangan. sesampainya dirumah, hal yg pertama kulakukan adalah membersihkan diri karena itu bisa membuat badan ini rileks kembali setelah kepenatan yang menghampiri seharian tadi.

*


setelah beres ak pun rebahan di tempat tidurku yang nyaman sembari memainkan gadget kesayangan. dan lagi chat dr tya....
tya : dah balik lo?
ak : iya udh , lgi rebahan
tya : hmmmm sibuk banget ya lo?
ak : (pertanyaan ini lagi , batinku) iya begitulah.
tya : jgn terlalu memforsir diri heh...
ak : iya, sip sip hahaha
tya : bener bener ya lo ga berubah masih aja kaya gini
ak : knp ak harus berubah?
tya : iya juga sih ya, cuman kasian aj yg baru knal lo di dinginin kaya gitu. kabur nanti mereka
ak : hahahaha, biarlah. yg penting km knal ak kan.
tya : hahahaa iye iye, masa gw gg kenal lo yg super duper dingin. yg menomor satukan pekerjaan demi semua mimpi lo itu. btw, kok tadi pagi lo lupa gitu ma gw?
ak : wkwkwkwk 100 buat km. nda, bukan lupa cmn terlalu banyak yg musti dipikirin. sorry
tya : hhaaaa okelah, kalau ad apa apa jgn sungkan sungkan ya buat hubungin gw. udh waktunya istirahat, sana istirahat besok lo harus kerja lagi kn. hhaa
ak : iya sip, thanks ya.
tya : sip...

setelah percakapan itu ditutup ak pun langsung memejamkan mata dan tanpa permisi pikiran itu datang menghampiri "thanks tya, selama ini km masih peduli meski ak sedingin ini. ak percaya km adalah teman yang baik dan ak tak perlu menjelaskan itu dan ak yakin km tau hal itu" ak pun terlelap dengan sendirinya tanpa menunggu waktu lama.

*

disisi lain pada waktu yang bersamaan ada tya yang sedang melakukan hal yang sama. berfikir sebelum ia tertidur "gw tau siapa lo, gw tau lo sedingin apa, gw tau itu dan gw faham itu. gw ga peduli orang luar ngomong apa tentang lo, yang gw tau gw akan support lo sebagai sahabat lo. dan gw ga perlu menjelaskan itu karena gw yakin lo tau itu". tya pun terlelap sambil senyum menghias wajahnya.

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya
*

Pagi nya pun ak tersenyum sambil berkata dalam hati"terimakasih tya , km masih bersabar untuk mempertahankan semua ini. ak pun yakin kamu tahu bahwa aku pun sama ingin mempertahankan semua ini cuman kesibukan kan ku membuat itu semua tak terlihat, maafkan ak tya". aku pun bergegas melangkah menuju ruangan kerja ku.

-end-

0 Comments: